Connect with us

Trending

Gawat! Kasus HIV di Kota Tarakan Naik Lagi, Kini Jumlahnya Mencapai 227 Orang

Published

on

TARAKAN, GENZPEDIA – Dinas Kesehatan Kota Tarakan mencatat sepanjang Januari hingga November 2022, telah memeriksa 8811 orang. Dari pemeriksaan 8811 orang tersebut, 56 orang dinyatakan positif HIV.

“Sepanjang Januari hingga November, kami telah memeriksa sebanyak 8811 orang. Dan yang dinyatakan positif sebanyak 56 orang. Jadi, hingga saat ini total keseluruhan yang sedang melakukan pengobatan HIV sebanyak 227 orang,” ucap Bahriyahtul Ulum, Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Tarakan kepada GENZPEDIA di Tarakan, Selasa 6 Desember 2022.

Angka ini mengalami kenaikan sebab dari Januari hingga Juli 2022 lalu, dari pemeriksaan sebanyak 5464 orang, yang dinyatakan positif sebanyak 33 orang.

Bahriyahtul Ulum mengatakan Dinkes Kota Tarakan rutin melakukan pemeriksaan kasus HIV. Langkah ini dilakukan untuk memutus mata rantai penyebarannya. Selain itu, saat seseorang sudah diperiksa dan hasilnya positif, Dinkes dapat bertindak cepat dan memberi obat yang sesuai. Sehingga penderita dapat hidup dengan layak meskipun telah dinyatakan positif HIV.

Ia mengatakan pemeriksaan dilakukan pada kelompok populasi kunci HIV. Kelompok populasi kunci tersebut, lanjutnya, terdiri atas wanita pekerja seks (WPS), waria, lelaki seks dengan lelaki (LSL), dan pengguna napza suntik (penasun). Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan pada ibu hamil dan pasangan yang akan menikah.

“Tidak hanya itu, masyarakat juga dapat memeriksa status HIV-nya secara mandiri dengan mendatangi langsung pelayanan pemeriksaan HIV,” ucapnya.

Di Kota Tarakan, kata dia, tersedia 4 lokasi PDP (Pelayanan, Dukungan dan Pengobatan) untuk HIV AIDS, di antaranya RSUD Jusuf SK, RSUKT, Puskesmas Karang Rejo dan Juata.

“Saat ini, sedang ada upaya penambahan untuk meminimalisir adanya penambahan kasus. Sehingga pasien tidak tertumpuk dan semuanya dapat terlayani,” ujarnya.

Untuk pendampingan kasus HIV, Dinkes telah menyediakan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), yang tugasnya melakukan pendampingan termasuk konselor bagi penderita HIV. “Termasuk memberi pendampingan selama pengobatan,” ucapnya.

Ia mengatakan untuk pengecekan HIV dan pengobatan diberikan secara gratis. Obat tersebut didatangkan langsung dari pusat melalui Kemenkes.

Ia menyebut selama ini menemui tantangan dalam penanganan HIV, yakni tidak semua orang mau memeriksa status HIV-nya. Selain itu, tidak semua orang mau mengikuti pengobatan HIV secara rutin. Padahal menurutnya, dengan melakukan pengecekan secara luas dapat meminimalisir penyebaran HIV.

“Selama ini banyak orang yang tidak mau cek status HIV-nya karena takut. Bahkan, ketika mengetahui statusnya positif HIV, langsung menghilang dan tidak mau melakukan pengobatan secara rutin. Untuk itu, Dinkes melalui tim KDS terus memotivasi dan memberi edukasi tentang pentingnya pengobatan HIV secara rutin. Agar dapat hidup sehat meskipun terkena HIV,” katanya.

(Ade Prasetia)

Bagikan ini