Connect with us

Lifestyle

Kenali 3 Emosi Panas Dalam Diri dan Cara Mengelolanya

Published

on

kenali-3-emosi-panas-dalam-diri-dan-cara-penanganannya
Ilustrasi

LIFESTYLE, GENZPEDIA – Emosi manusia ibarat cuaca. Terkadang kamu merasa cuaca panas karena teriknya matahari, atau cuaca dingin karena hujan yang mengguyur semalaman. Layaknya cuaca panas dan cuaca dingin, manusia merasakan emosi panas dan emosi dingin. Pada kali ini, kamu akan diajak untuk kenali 3 emosi panas dalam diri dan cara mengelolanya. Yuk, disimak!

Apa Itu Emosi Panas?

Menurut Yoon Hong Gyun, emosi panas adalah emosi yang muncul akibat melakukan penekanan pada emosi negatif, seperti menyembunyikan kesedihan, menahan amarah atau menahan rasa sakit (Gyun, 2020: 185) . Penekanan emosi negatif dengan emosi positif membuat kamu bersalah saat merasakan emosi negatif. Padahal, setiap emosi itu wajar kita rasakan. Saat kamu sering menekan emosi negatif-mu, kamu akan sulit untuk menerima dan mengungkapkan emosimu.

Contohnya adalah kamu dilarang menangis saat salah satu kelargamu meninggal. Saat itu, kamu yang merasa sedih dan menangisi kepergian salah seorang anggota keluargamu untuk selamanya. Namun, salah seorang kerabat memberitahumu jangan menangis. Kamu mengubur paksa rasa sedihmu dan mengganti dengan energi positif. Kamu berusaha tegar, tertawa, dan tersenyum. Tapi, jika kamu teruskan untuk memaksa munculnya energi positif, kamu akan merasakan emosi panas.

Jenis-jenis

Hakikatnya, emosi panas ada pada setiap emosi negatif. Setiap emosi negatif sebenarnya sifatnya tidak salah. Namun, akan menjadi bom waktu bila tidak dikelola dengan baik. Berikut adalah 4 macam emosi panas dalam diri.

1. Merasa Bersalah

Perasaan bersalah pada diri sendiri merupakan reaksi dari penekanan emosi negatif yaitu rasa benci. Dalam hidup, kita bisa menemukan hal yang dibenci. Misalnya kamu tidak menyukai orang yang tidak tepat waktu dalam suatu pertemuan. Atau kamu tidak menyukai orang yang sombong. Jika emosi tersebut kamu tekan, maka emosi negatif tersebut tertahan dan melahirkan pertahanan yang belum matang. Kamu terobsesi untuk menjadi orang baik dengan terus berbuat baik dan ramah untuk menekan emosi negatif.

Pertahanan emosi negatif yang belum matang menyebabkan muncul emosi panas berupa benci pada diri sendiri dan sering merasa bersalah. Dikutip dari hellosehat.com, merasa bersalah pada diri sendiri atau guilty complex yaitu kondisi seseorang merasa bersalah secara terus menerus. Emosi panas ini bisa menular pada orang lain, loh! Misalnya, kamu merasa bersalah saat adikmu sakit. Kamu terus mengatakan “Ini salahku. Seharusnya aku saja yang sakit.” Hal ini tentu saja mempengaruhi psikologis adikmu.

Baca Juga: 7 Tips Mencintai Dirimu Sendiri Agar Hidupmu Bahagia

2. Mengasihani Diri Sendiri

Emosi panas kedua adalah mengasihani diri sendiri. Sikap mengasihani diri sendiri merupakan simpati kepada diri sendiri. Namun, simpati pada diri sendiri berkonotasi negatif. Mengasihani diri sendiri atau self pity merupakan perasaan iba terhadap diri sendiri yang berujung memancing simpati orang lain.  Berkat mengasihani diri sendiri, mereka akan mudah berbaur dengan orang lain dan sering mendapat bantuan. Mereka yang suka mengasihani diri sendiri akan menganggap diri mereka selalu menyakiti orang lain atau bahkan menganggap diri mereka korban. Perasaan ini akan membuat hubunganmu dengan orang lain menjadi tidak baik.

3. Narsisme

Emosi panas selanjutnya adalah narsisme. Self-love atau mencintai diri sendiri itu penting. Tapi, jika itu terlalu berlebihan akan berujung dengan narsisme. Dilansir dari alodokter.com, narsisme merupakan kondisi seseorang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain dan membutuhkan perhatian lebih. Hal ini menyebabkan ia kekurangan empati dan egois. Karena memiliki narsisme, ia tak bisa berinteraksi dengan orang lain dengan baik.

Cara Mengelola

Emosi panas dapat menghambat kehidupanmu, baik untuk diri sendiri maupun hubunganmu dengan orang lain. Dilansir dari laman satupersen.net, dibutuhkan kesadaran emosional untuk mengelola emosimu. Kesadaran emosi yang dimaksud adalah kamu mengetahui emosimu dan bagaimana pengaruhnya untuk dirimu dan orang sekitarmu.  Kamu harus jujur pada perasaanmu. Contohnya, kamu merasa sedih dan ingin menangis, tidak apa-apa untuk merasa sedih. Toh, itu hal yang wajar. Kamu tidak perlu merasa bersalah untuk rasa sedihmu.

Selain itu, memiliki sikap simpati itu penting. Namun, jika rasa simpati itu malah digunakan untuk mengasihani diri sendiri, itu salah. Jadi, bersimpatilah sewajarnya. Terakhir, kalahkan rasa narsismu dengan berhubungan dengan orang lain. Misalnya, sekadar menanyakan kabar atau membantu orang lain dapat mengurangi sifat narsisme.

Jujurlah pada diri tentang perasaanmu. Jangan biarkan perasaanmu terluka atau bahkan perasaanmu itu melukai orang lain.

 

Sumber:

  1. Gyu, Yoon Hong. 2020. How To Respect Myself: Seni Menghargai Diri Sendiri, Jakarta: TransMedia Pustaka.
  2. Puji, Aprinda. 2021. Guilt Complex: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan, https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/guilt-complex/ 
  3. Pittara. 2022. Narsistik, https://www.alodokter.com/narsistik
  4. Setiawan, Nouvend. 2020. Emosi Itu Bukan Marah! (Mari Mengenal Emosi), https://satupersen.net/blog/emosi-itu-bukan-marah-mari-mengenal-emosi

 

 

 

 

Bagikan ini
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *